Jam dua siang hari ini, saya ambil laptop yang teronggok dekat barisan buku di rak putih yang ada di ruang tamu. Mampir sebentar ke dapur untuk menenggak air putih dingin, saya langkahkan kaki menuju kamar tidur. Ya, posisi favorit saya ketika hendak menulis adalah setengah rebahan di kasur sambil memangku laptop yang dialasi cooling pad, sembari menggesek-gesekkan kaki ke bedcover dingin dari AC yang sudah dinyalakan 15 menit lalu. Ah, nikmatnya di tengah suhu panas Jogja saat ini.
Saya buka laptop dan berpikir sejenak tentang topik apa yang akan saya tulis pekan ini. Bukannya apa, kalau tidak rajin setor tulisan, saya takut di-kick lagi dari komunitas 1Minggu1Cerita yang dua-tiga tahun ini menjadi “rumah” saya ketika menulis. Duh, konsisten meluangkan waktu untuk menulis ternyata sulit, hahaha.
Saya buka icon Photos yang ada di dock section home screen laptop untuk mencari inspirasi. Scroll beberapa foto di masa lalu, mata saya tertuju pada sebuah foto yang seketika memberi aha moment tentang apa yang akan saya tulis kali ini.
__________
Waktu berganti dan tahun pun berubah, hukum alam yang tidak ada manusia mana pun yang bisa mencegahnya. Seperti semua orang, usia kita pun pasti bertambah namun sekaligus bisa berkurang tergantung dari sudut pandang mana yang ingin kita pakai. Sama halnya dengan kedua orang tua biologis yang saya panggil Mama dan Papa.
Bulan ini, usia Mama bertambah sekaligus berkurang di dunia ini. Mama pernah bilang ke anak-anaknya, cita-citanya sekarang adalah menjadi seorang Nenek yang sehat agar jika usia dan takdirnya sampai, suatu hari nanti masih bisa aktif bergerak menyaksikan cucu-cucunya menyelesaikan perguruan tinggi bahkan ikut mengantarkan mereka memulai rumah tangga bersama pasangannya kelak.
Aamiin, semoga Allah berikan kesehatan selalu ya Ma, Pa.
__________
Mama adalah tipe yang suka sekali jalan-jalan dan bepergian. Bisa dibilang masih sangat kuat menempuh perjalanan jauh. Februari lalu, Mama dan saya bahkan bepergian berdua ke Nusa Penida. Naik turun tebing bagi beliau saat ini bukan menjadi masalah.

Sementara Papa, kondisi beliau pun masih sangat baik. Medical checkup terakhirnya tidak menunjukkan ada masalah pada hasil HbA1c, hasil hematologi, hipertensi, kolesterol. Hanya di bagian asam urat saja yang score-nya naik namun masih tergolong oke. Papa juga masih aktif bepergian mengurus kebun sawit tercintanya yang letaknya beberapa puluh kilometer dari rumah. Pun setiap sore, nggak pernah absen mengurus peternakan kecil yang berisi beberapa ayam dan soang yang ada di belakang rumah. Setiap kami pulang kampung, nggak jarang ayam dipotong dan dimasak untuk menyambut anak, mantu dan cucunya. Alhamdulillah, bisa ikut merasakan ayam yang Papa besarkan sendiri.
Ada istilah yang pernah saya baca, kira-kira seperti ini,
“We are so busy growing up, we often forget the parents are also growing old.”
Ingatan saya kembali ketika kecil. Bagaimana dulu tangguh dan pemberaninya Mama serta Papa menjaga kami bertiga, anak-anaknya.
Dulu, kami sekeluarga pernah tinggal di area hutan sawit di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Jauh dari keluarga besar bahkan jauh dari kota, Mama dan Papa hanya punya satu sama lain untuk mengurus kami bertiga, anak-anak yang saat itu masih penuh bergantung kepada mereka berdua.
Apa rasanya ya, jadi Mama saat itu disaat teknologi belum se-maju seperti hari ini? Dimana kalau lelah beberes, tinggal tap-tap layar smartphone untuk pesan jasa beberes dan bersih-bersih rumah, yang beberapa jam kemudian rumah disulap menjadi rapi dan bersih. Dimana kalau tidak mood menyiapkan makanan untuk keluarga, lagi-lagi tinggal tap-tap untuk pesan makanan yang disuka yang akan dihidangkan untuk suami dan anak-anak tercinta. Atau kalau badan lagi tidak bisa diajak bekerja sama, ada jasa panggilan pijat yang bisa diminta untuk segera datang ke rumah. Atau kalau bosan melanda, sekali lagi tinggal tap-tap untuk melihat ratusan konten menghibur yang diunggah para konten kreator seperti beberapa tahun belakangan ini.
Apa rasanya ya, jadi Papa saat itu? Disaat kerusuhan antar etnis pecah di Kalimantan Tengah pada 2001, ada anak, istri, juga dirinya sendiri yang mungkin terancam keselamatannya. Mungkin terbaca lebay, tapi kalau tidak, kenapa kami semua (kecuali Papa karena mau nggak mau harus tetap bekerja menghidupi kami) sampai harus mengungsi setahun penuh ke rumah Nenek di Sumatera Utara? Kerusuhannya seperti apa, berapa banyak korbannya dan bagaimana latar belakangnya, teman-teman silakan googling “Tragedi Sampit”. Syukurlah, Papa masih dalam perlindungan Yang Maha Melindungi sehingga di tahun depannya kami masih bisa berkumpul kembali dalam kondisi sehat wal afiat.
Kalau diingat-ingat, begitu banyak kejadian luar biasa yang terjadi selama kami tinggal di pulau Kalimantan. Let me tell you this one story.
Teman-teman pernah lihat ular piton siang-siang nangkring di kusen jendela, nggak? Oh kalau saya sih sering. Karena kami tinggal di area hutan sawit yang jauh dari pemukiman penduduk, jangan kaget kalau hampir setiap hari ada saja ular datang bertamu ke rumah. Dulu mana ada Damkar yang bisa dimintai tolong untuk urus hal seperti ini. Tetangga terdekat jaraknya sekitar lima menit berjalan kaki. Papa sudah pasti pergi bekerja dan akan pulang ketika malam hari. Sekali dua kali, memang ada orang yang bersih-bersih halaman yang bisa Mama mintai tolong. Tapi kalau tidak ada? Sudah pasti Mama lah hero kami saat itu. Saya yakin saat ini Mama masih jago usir-mengusir serta getok-menggetok kepala ular 🙂
Saya nggak paham entah ada ular berbisa atau tidak yang pernah datang ke rumah. Tapi saya ingat betul, ada suatu kejadian dimana kalau ular tersebut berbisa dan Mama nggak reflek dengan cepat, mungkin Mama sudah tidak berada di sisi kami selama ini.
Jadi ceritanya, ada satu keset kain berwarna kuning yang tergeletak di teras belakang. Saat itu saya, kakak dan adik sedang bermain tidak jauh dari keset kain tersebut. Nggak lama, saya lihat Mama beranjak dari posisinya yang sedang mencuci baju di kamar mandi belakang berjalan menuju rumah inti, dimana jalannya harus melewati kami bertiga dan keset kain tersebut.
Yang Mama dan kami tidak tahu adalah, ternyata ada ular berukuran menengah yang mungkin sedang beristirahat dibalik keset kain berwarna kuning tersebut. Saat menapakkan kaki ke keset kuning itu, tiba-tiba ada ular hitam yang keluar dari balik keset lalu hissing dan siap mematuk kaki Mama. Dengan reflek yang cepat, Mama menginjak area perut dan ekornya untuk mematikan gerakannya. Ada jarak yang tidak terlalu jauh antara mulut ular yang terbuka siap-siap mematuk dengan betis Mama.
Mama langsung berteriak, menyuruh kakak mengambil sapu yang ada di dalam rumah. Beliau langsung menggetok kepala ular hingga mati menggunakan tangkai kayu dari sapu tersebut. Hwaaaa, hampir saja!
Oh, atau cerita ini.
Mama dan Papa pernah membawa adik saya sekitar jam delapan malam saat hujan masih membasahi tanah Kalimantan, menuju kota yang jaraknya sekitar 45 menit, melewati hutan dengan menggunakan sepeda motor. Tujuannya, mencari dokter untuk mengeluarkan bola kecil dari hidung adik yang nyangkut ketika kami bermain. Hadeeeh, maafkan kerepotan yang kami timbulkan yah Ma, Pa :’)

Penampakan motor jadul yang dipakai Mama dan Papa dulu. Source: GoogleSaya yakin suasana pasti mencekam selama perjalanan menuju kota. Malam-malam harus menempuh jarak yang tidak dekat, kekhawatiran terbagi antara anak sulung dan tengahnya yang ditinggal di rumah dalam kondisi hujan dan listrik mati (di tempat kami dulu, ada pemadaman listrik setiap jam 6 sore sampai jam 4 pagi), kondisi anak bungsu yang di hidungnya bersarang bola kecil, hingga khawatir tentang kondisi motor yang dulu seringkali mogok. Belum lagi memikirkan kalau-kalau ada orang yang berniat jahat selama melintasi hutan. I kid you not, kami benar-benar tinggal di hutan saat itu. Sumber penerangan pun hanya berasal dari sepeda motor yang Papa kendarai. Mana ada lampu jalan di tengah hutan dulu? Pak Jokowi pun belum bertugas saat itu untuk membantu membangun infrastruktur, hehehe.
Syukurnya sekitar jam 10 malam, Mama, Papa dan adik sudah kembali ke rumah dengan sehat selamat, serta bola kecil sudah dikeluarkan dari hidung adik saya.
Masih banyak beberapa cerita menakjubkan ber-adrenalin tinggi yang bisa saya ceritakan tentang keberanian dan ketangguhan Mama dan Papa di pulau Kalimantan. Tapi nggak terasa di Jogja saat ini sudah masuk waktu ashar dan saat saya menuliskan kalimat ini, word counter WordPress sudah menunjukkan angka 1300-an kata. Saya takut jadi kepanjangan dan bikin bosan, euy. Next time, yaa~
Intinya, terima kasih Mama dan Papa, untuk perjuangannya merawat dan membesarkan kami bertiga. Semoga Allah selalu beri keberkahan di setiap langkah kaki Mama dan Papa, yang kepada mereka berdua, saya rela usahakan yang saya mampu.

Tabik,
