[Thoughts] Kalau Saya Meninggal Nanti, Mas Nikah Lagi Nggak?

Sebuah pertanyaan di kepala yang ingin sekali saya tanyakan pada suami dari dulu. Namun enggan, saya tidak siap mendengar jawaban beliau. Aduh, dasar wanita. Hehehe.

“Kalau saya meninggal nanti, Mas nikah lagi nggak?”

Mungkin banyak yang tidak siap ngobrolin kematian dengan pasangan. Selayaknya masalah uang, berpikir itu tabu. “Jangan ngomongin itu ah, pamali! Nanti kejadian lho (meninggalnya)”.

Wait.

Bentar, bentar.

Bukankah kematian itu pasti akan dirasakan oleh semua makhluk? Kenapa takut untuk diobrolin? Apakah dengan diomongin kematian jadi datang mendekat? Padahal takdir manusia yang satu ini sudah ditetapkan, tidak dapat ditunda bahkan diubah. Justru kita bisa mempersiapkan apa yang perlu dipersiapkan sampai malaikat Izrail datang menghampiri. Saya bahkan sudah berwasiat kepada suami, apa yang harus beliau lakukan sepeninggalnya saya suatu hari nanti.

__________

Dari awal menikah, saya punya akses ke semua akun banking, email, sekuritas, bahkan sosial media yang suami miliki, begitu pun sebaliknya. Semua password tersimpan rapi di Bitwarden, yang aksesnya perlu authenticator dari akun Google yang kami miliki. In case something happens, sehingga tidak sulit mengurus apa yang perlu diurus, begitu pikir kami.

Sejak pertanyaan “menikah lagi” itu tebersit di pikiran, saya sempat bertanya kepada diri sendiri. Kehidupan seperti apa yang saya ingin suami miliki saat napas dan fungsi biologis tubuh saya berhenti duluan secara permanen nanti? Apalagi jika suatu hari nanti, kami dianugerahi anak-anak dan mereka harus saya tinggalkan bersama beliau.

Tentu pertama sekali, saya ingin ada yang mengurus anak-anak. Berat rasanya jika saya bebankan hal ini hanya kepada suami atau orangtua, mertua, bahkan kakak atau adik saya. Mereka punya kehidupan sendiri, dan tidak elok rasanya harus saya “titipi” anak-anak saya. Saya ingin ada sosok “Ibu” lain yang mau mencurahkan kasih sayangnya dengan tulus kepada anak-anak saya tercinta.

Kedua, sudah pasti saya juga ingin sosok imam yang saya tinggalkan di dunia ini ada yang mengurus. Tidak tega rasanya setiap hari beliau harus mencari barang-barang yang diperlukan seorang diri, padahal bertahun-tahun ini sangat bergantung kepada saya.

“Shaver Mas dimana, ya?”

“Muti lihat Kindle punya Mas?”

“Cotton buds dimana, Yang?”

“Kaos kaki yang warna abu-abu dimana, Beb?”

“Gunting Mas yang kecil Muti taro mana, ya?”

Dan belasan pertanyaan lain yang beliau lontarkan setiap hari.

__________

Satu pertanyaan yang enggan saya tanyakan sejak beberapa tahun lalu itu, jawabannya saya dapatkan siang ini.

Mulanya kami membahas satu topik di linimasa Twitter (hey Elon Musk, selamanya akan saya sebut sosial media ini Twitter, bukan X) yang sedang ramai, dimana ada seorang laki-laki yang menikah lagi selang empat bulan setelah istrinya meninggal. Saya bertanya kepada suami tentang pendapatnya terhadap perdebatan ini.

Kalau dia menikah lagi berarti nggak cinta sama pasangannya dulu“. Begitulah asumsi netizen dengan segala argumennya bahkan sampai sok tahu bagaimana perasaan seseorang terhadap pasangannya dulu.

Suami tiba-tiba berdialog sendiri,

“Kalau Mas misalnya ditanya nih ya, seandainya Mas meninggal duluan nanti Mas mau Muti nikah lagi nggak?” ucap suami membuat pengandaian.

“Jawabannya, jelas. Mas mau Muti nikah lagi biar ada yang jagain Muti. Biar terhindar dari fitnah. Ini bentuk kasih sayang Mas sama Muti. Lagi pula menikah itu kan ibadah”. Beliau menjawab pengandaiannya sendiri dengan santai.

“Kalau kita meninggal, kita udah nggak ada hubungannya lagi sama manusia yang masih hidup. Udah nggak ada urusan. Kita pasti sibuk sama alam kubur, sibuk sama pertanyaan malaikat, azab kubur atau bahkan nikmat kubur.” Beliau masih menjelaskan.

Sungguh jawaban yang bikin saya sedikit kaget karena tidak ada aba-aba akan membahas hal ini. Dari pernyataan beliau, ternyata selaras dengan apa yang sudah saya pikirkan, tentang kehidupan seperti apa yang saya ingin suami miliki saat saya duluan terkubur dengan tanah nanti.

Saya kembalikan penuh takdir hidup dan mati saya hanya kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung. Semoga saya dan teman-teman di sini ketika saatnya nanti, diberikan akhir hidup yang indah, kematian yang husnul khotimah.

Terima kasih untuk obrolan singkat kita, suamiku tercinta. Seandainya boleh, saya ingin usia kamu lebih panjang karena saya tidak ingin merasakan rasanya ditinggal sosok yang sangat saya sayangi sedunia.

Napas saya pun ikut “berhenti” kalau Mas tiba-tiba pergi.

Tabik,

2 thoughts on “[Thoughts] Kalau Saya Meninggal Nanti, Mas Nikah Lagi Nggak?

  1. Mbaaaa, aku sedih banget kalau baca soal kematian. Aku ingat ayah soalnyaa. Semoga kita semua senantiasa sehat ya mbaa

    Like

Leave a comment