[THOUGHT] INSTAGRAM IS NOT TOXIC, YOU ARE

Beberapa hari yang lalu saya membaca satu postingan di Twitter yang mengeluhkan kalau “warga” Instagram itu nggak ada yang susah (dalam segala hal). Semuanya happy, semuanya kaya, mereka seperti tidak punya masalah hidup. Saya sebenarnya sering baca tulisan yang berisi jokes antara “warga” Twitter, Instagram dan bahkan Facebook. Kali ini menarik minat saya buat menulis hal ini karena nggak ada kesan jokes pada isinya dan terlihat yang bersangkutan serius beranggapan demikian. Begini kira-kira isi postingannya:

Lihat stories dan postingan orang-orang di Instagram kok kayaknya hidupnya bahagia terus ya? Kayak nggak ada yang susah. Hmm, bersyukur dan positif thinking aja kalau mereka juga pasti pernah susah.

Wait, “positif thinking kalau mereka juga pasti pernah susah”?

Saya nggak tahu apakah maksudnya dengan berpositif thinking kalau seseorang pasti pernah mengalami kesusahan maka kita jadi bahagia dan senang? Apakah maksudnya, masalah hidup seseorang juga harus ikut diposting di media sosial selain kebahagiaan yang mereka bagikan?

Kalau kata Selphie Usagi di Twitternya, “social media is toxic because people only show the best of them and you compare their best with your worst that you don’t publish, so you’ll always feel that you’re not enough. It’s toxic because you’re being unfair with yourself.

Sometimes that’s true, isn’t that?

Yap, banyak yang bilang bahwa media sosial, khususnya Instagram, itu toxic. Padahal, kadang kita yang suka nggak adil sama diri kita sendiri. Kita suka membandingkan keberhasilan orang lain dengan kondisi kita yang mungkin lagi berada di “bawah” atau di posisi kita yang masih sedang berproses. Sadar nggak, kadang hal-hal yang jadi bahan perbandingan ini suka nggak apple-to-apple?

Mungkin banyak yang belum tahu, tapi menurut saya yang harus diingat dari bermain media sosial khususnya Instagram adalah:

  • Yang dilihat di Instagram itu cuma sebagian kecil dari seseorang,  nggak seharusnya dibanding-bandingkan antara mereka dan diri kita.
  • Do you know this is Instagram? I mean, hampir semua orang memang berbagi hal-hal yang membahagiakan menurut mereka masing-masing dan menyembunyikan kesedihannya, why do we have to be jealous and bitter?
  • Jadikan inspirasi to take better care of yourself dibanding mengasihani diri sendiri kenapa sampai sekarang masih stuck di tempat.
  • Kelebihan orang lain bukan kekurangan kita, kelebihan kita juga bukan lah kekurangan orang lain.
  • Kalau ngerasa nggak punya kelebihan apa-apa, buat sendiri kelebihannya dengan mengasah bakat/hobi. Suka masak? Mari seriusi. Suka bola, suka baca, suka nari, suka musik, suka makeup, suka main game, suka programming? Let’s being good at them.
  • Atau mau jadi biasa-biasa saja? Nggak ada salahnya dari menjadi biasa-biasa aja. Nggak ada salahnya merasa cukup dengan menjadi biasa aja. Let’s be content with being mediocre.
  • Accept bahwa sebagian orang memang terlahir dengan rezeki yang lebih dari kita baik dari hal materi dan lain-lain. Bukan berarti usaha kita yang kurang, hanya saja mereka yang memang dikaruniai rezeki dan kesempatan berlebih. Jangan malah sugar coating ini itu. Just accept it.
  • Banyak yang bilang stop ngecekin Instagram atau bahkan deactivate Instagram, mungkin itu bisa jadi pertolongan pertama. Tapi menurut saya, stop main media sosial itu bukan menyelesaikan masalah melainkan menghindari masalah. Sebaiknya diubah cara berpikirnya dari dalam, sehingga media sosial apapun termasuk Instagram tidak mengganggu hidup.
  • Berkaitan dengan point di atas, kalau memang lagi mentally drainedcoba deh muhasabah (evaluasi) diri dan hindari ngecek Instagram. Tujuannya bukan untuk menghindari iri hati melihat kebahagiaan orang lain, tujuannya adalah memperbaiki dulu pondasi di dalam diri kita.
  • Bersyukur.

Daripada being jealous dengan kebahagiaan orang lain dan memutuskan untuk puasa atau deactivate Instagram, let’s made up our mind. Reconsider our intention on using Instagram. Because it’s us who control us. Tapi kalau merasa deactivate Instagram adalah cara kamu, then do what makes you happy.

Oh, last but not least, I don’t know with you but, being presentable in any occasion (and wear something red) help me a lot! Feeling enough and content (also attractive) from within ourselves is a basic way to boost our level of confidence.

Mari perbaiki pola pikirnya, karena adalah kita yang mengontrol diri kita sendiri.

Tabik, Mutia.

One thought on “[THOUGHT] INSTAGRAM IS NOT TOXIC, YOU ARE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s